Gampong Dayah Tuha di Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie, bukan sekadar sebuah desa administratif biasa. Wilayah ini menyimpan memori kolektif tentang masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam, khususnya dalam lanskap jaringan intelektual Islam Nusantara abad ke-16 hingga ke-17.
Untuk memetakan sejarahnya secara mendalam, kita bisa membedah tiga bukti utama yang Anda sebutkan melalui dua pendekatan: Secara Organik (aspek sosiologis, budaya, dan tradisi lisan lokal) serta Secara Data (analisis teks, peninggalan arkeologis, dan dokumen historis).
Bagi masyarakat Gampong Dayah Tuha, makam Faqih Jalaluddin bukan sekadar situs purbakala, melainkan episentrum spiritual yang hidup. Tradisi ziarah, doa bersama saat musim tanam (kenduri blang), atau ketika menghadapi musibah mencerminkan posisi beliau sebagai Aulia (wali/orang suci) yang dihormati. Secara komunal, keberadaan makam ini mengukuhkan identitas warga Dayah Tuha sebagai keturunan atau penjaga warisan peradaban ulama besar.
Secara catatan sejarah Islam Nusantara, Syekh Faqih Jalaluddin Al-Asyi (juga dikenal sebagai Jalaluddin bin Kamaluddin) adalah seorang ulama fikih terkemuka. Beliau hidup di masa akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 dan terkenal karena menulis kitab Safinat al-Hukkam fi Takhlis al-Khasam atas perintah Sultanah Kamalat Syah (Sultanah terakhir Aceh).
Data Tekstual: Kitab Safinat al-Hukkam adalah kodifikasi hukum perdata Islam (seperti hukum waris, tanah, dan peradilan) yang menjadi rujukan hakim (qadhi) di seluruh wilayah taklukan Kesultanan Aceh.
Geopolitik Masa Lalu: Keberadaan makam tokoh sekaliber Faqih Jalaluddin di Batee menandakan bahwa wilayah pesisir Pidie saat itu bukanlah daerah pinggiran, melainkan salah satu pusat administrasi hukum dan intelektual kesultanan.
Secara etimologi bahasa Aceh, Dayah berarti pusat pendidikan Islam tradisional (berasal dari bahasa Arab Zawiyah), dan Tuha berarti tua atau pertama. Cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun meyakini bahwa di sinilah tempat berdirinya lembaga pendidikan tinggi Islam pertama atau tertua di kawasan pesisir Batee. Lembaga ini menjadi tempat berkumpulnya para penuntut ilmu (balee seumeubeut) sebelum mereka dikirim belajar ke ibu kota kesultanan di Banda Aceh atau ke Timur Tengah.
Studi toponimi (asal-usul nama tempat) menunjukkan pola penamaan di Aceh yang berbasis pada fungsi dominan suatu wilayah di masa lalu.
Pola Dayah di Aceh: Di era Kesultanan Aceh (terutama masa Sultan Iskandar Muda), sistem pendidikan dayah diintegrasikan ke dalam struktur negara. Dayah dibagi menjadi beberapa tingkatan: Dayah Cot (dasar), Dayah Rangkang (menengah), hingga Dayah Manyang/Tuha (tinggi).
Analisis Data Lapangan: Penamaan \\\"Dayah Tuha\\\" bertindak sebagai data spasial otentik bahwa di tanah ini pernah berdiri infrastruktur fisik berupa kompleks asrama, masjid, dan ruang belajar skala besar yang mendahului pemukiman modern di sekitarnya.
Secara organik, struktur sosial masyarakat Dayah Tuha terbentuk dari perpaduan dua kelompok utama:
Kelompok Intelektual/Ulama: Para santri dan guru agama dari berbagai penjuru Aceh (bahkan luar Aceh) yang datang untuk belajar ke Dayah tersebut, lalu menetap, menikah dengan penduduk lokal, dan beranak-pinak.
Kelompok Pesisir & Agraris: Penduduk asli yang bekerja sebagai nelayan atau petani, yang merapat ke area sekitar Dayah demi mendapatkan keamanan, berkah spiritual, dan akses perdagangan.
Secara data geografis, Kecamatan Batee terletak di pesisir utara Pidie yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka.
Faktor Penentu Deskripsi Historis & Data TeknisAksesibilitas Jalur Laut